Curhatan :D

cropped-images.jpeg

Saya adalah seorang anak perempuan dari orangtua saya. Saya memiliki seorang kakak yang terpaut usia yang lumayan jauh yakni 8 tahun. Saya dan dia memiliki dua sifat yang begitu berbeda pada dasarnya. Kakak saya ada orang yang introvert, ia pendiam, tetapi memiliki ambisi yang besar untuk mewujudkan cita-citanya, sedangkan saya adalah seorang yang ekspresif, dan tidak mau diam, tetapi tak berambisi sekuat yang ia lakukan.

Pada suatu hari, saat itu waktu sudah cukup dekat untuk menghadapi segala bentuk ujian akhir. Seperti biasa, pada awalnya, saya begitu antusias untuk melaksanakan segala persiapan saya dengan matang agar dapat memberikan hasil yang terbaik bagi masa depan saya. Tetapi kekuatan saya itu tidak lama, saya yang terlanjur terlalu ekspresif dalam menghadapi sesuatu, akhirnya saya terlena dengan berbagai kegiatan yang dapat melanggar janji saya. Sebelumnya, saya berjanji untuk sementara menjadi ansos, tidak jatuh cinta, dan hidup tanpa gadget. Akan tetapi, ada seorang laki-laki yang mampu meruntuhkan segala macam prinsip yang telah saya tekadkan sebelumnya.

Saya tidak begitu mengerti, karena dia mulai pergi ketika saya sedang benar-benar berada di puncak kesibukkan saya. Awalnya saya merasa tidak peduli, tetapi semakin lama, semakin hari, saya merasa bahwa saya melemah. Saya menganggap hidup saya hancur. Kehidupan saya berlalu begitu lambat, penuh dengan luka-luka dan tangisan yang menurut saya kini, saya begitu bodoh pernah melakukannya. Saya pernah meninggalkan bimbel saya selama 2 minggu dan selama itu pula saya setiap pulang sekolah hanya menangis, menangis, dan menangis tanpa pernah menyentuh buku-buku sebagai persiapan Ujian Akhir.

Waktu itu tiba, ujian akhir sudah berlalu, kini pembagian hasil belajar saya selama 1 semester pun sudah ada di hadapan saya. Betapa terkejutnya saya ketika melihat susunan nilai yang begitu buruk dan melihat peringkat saya jatuh jauh ke 20 terbawah. Rasanya dunia saya semakin hancur. Saya semakin tidak memiliki hasrat untuk melajutkan hidup apalagi untuk membuatnya lebih baik.

Keadaan ini berlangsung lama. Sekitar 40 hari sebelum UN lah saya mulai bangkit dari segala keterpurukkan saya. Kesibukkan yang diberikan oleh guru bimbel saya agar saya melupakan segala kesedihan saya mulai berhasil membawa saya untuk hidup kembali menjadi saya yang baru. Perlahan, keyakinan saya muncul dan tumbuh semakin besar bahwa saya dapat bahagia, saya akan sukses tanpa ada orang yang menyakiti saya. Mulai dari kisah itulah, saya mulai mampu dan mau untuk belajar mengendalikan emosi saya. Emosi senang, sedih, marah, kecewa, mulai saya asah agar saya tidak lagi terpuruk dan akhirnya menjadi gagal untuk yang kesekian kalinya. Saat ini, jika saya menghadapi masalah yang dapat menjatuhkan saya, saya tidak terlalu terpuruk, saya malah lebih senang untuk bersyukur atas segala yang ada dan saya juga merasa lebih hidup dalam kehidupan saya yang baru ini.

Advertisements

This blog will tell you how to maintain your Emotional Intellegence

personalityshintafs

Time Management

Personality Winda Mardatillah

A great WordPress.com site

Personality Dinny Aprilia

Kecerdasan Sosial (Social Intelligence)